Surat dari Sahabat
“Suatu kali Aku sedang duduk menghadap peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Aku memperhatikan dengan seksama, Aku tidak sedang melamun, Aku tidak sekedar melihat. Sebab jika Aku tidak serius memperhatikan orang banyak itu, maka tidak mungkin Aku bisa mendapati bahwa ada seorang janda miskin yang memberi persembahan juga.
Banyak orang kaya memberikan uang dalam jumlah yang besar ke dalam kotak itu, tetapi kemudian, ada seorang yang memberi dengan jumlah hanya dua peser, yaitu satu duit. Berapa besarkah dua peser atau satu duit itu? Itu adalah jumlah terkecil dalam mata uang Yahudi, yaitu hanya setengah duit. Betapa kecilnya uang yang diberikan janda miskin ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang diberikan orang lain dalam kotak itu.
Ini yang menarik perhatian-Ku. Reaksi-Ku sangat berbeda dengan orang banyak. Aku memanggil murid-murid-Ku dan mengatakan kepada mereka bahwa janda miskin ini telah memberi yang terbanyak dibandingkan dengan orang-orang lain. Cara pandang-Ku sangat berbeda dengan cara pandang dunia. Dunia melihat jumlah, dunia melihat luarnya, tetapi Aku melihat sampai ke dalam hati seseorang. Aku tidak hanya memandang kuantitas saja, tetapi juga melihat kualitas. Apa artinya seseorang memberi banyak, tetapi hatinya terpaksa? Apa artinya orang memberi persembahan dengan jumlah besar, tetapi hanya untuk mencari nama?
Mengapa Aku memuji persembahan janda miskin ini? Mengapa persembahan janda miskin ini yang berkenan kepada Bapa-Ku? Karena ia memberi yang terbaik yang ia miliki dengan totalitas.
Bagaimana dengan engkau? Sering kali engkau takut dalam memberi kepada BapaKu. Engkau tidak memberi yang terbaik, engkau tidak memberi dengan hati yang total, itu menunjukkan keraguanmu kepada pemeliharaan BapaKu. Banyak hal yang engkau simpan untuk dirimu sendiri, banyak hal yang engkau sayangkan dalam hidupmu yang tidak mau engkau persembahkan kepada BapaKu. Waktu, diri sendiri, masa depan, dll. Engkau masih berpikir bahwa jika semua itu engkau persembahkan maka itu akan diambil darimu selamanya.
Ingatlah! Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang engkau miliki yang bisa engkau berikan kepada BapaKu. Mengapa? Sebab segala sesuatu yang ada padamu adalah milik bapaKu. Engkau bisa memberi itu bukan karena engkau memiliki, tetapi karena engkau telah diberi terlebih dahulu oleh BapaKu.
Bayangkan bagaimana jika BapaKu hitung-hitungan dengan engkau…Karena oksigen mahal, satu tabung jutaan rupiah, maka sehari engkau cukup dikasih 30 menit oksigen saja. Sisanya 1410 menit engkau napas pakai apa? Jika 1410 menit itu engkau tidak mendapatkan oksigen bagaimana kira-kira keadaan mu? Aku hanya tahu ada seorang penyelam Jerman, Tom Sietas yang memecahkan rekor dunia mampu menahan napas hingga 8 menit 58 detik, tapi Aku belum pernah mendengar yang mampu lebih dari itu, apalagi 1410 menit?????
Jika engkau belum kristen atau belum mengerti arti persembahan maka engkau tidak perlu memberi persembahan. Tetapi jika engkau adalah orang kristen dan sudah tahu arti persembahan tetapi tidak mau memberi persembahan, engkau berdosa dihadapan BapaKu.”
Salam.

