Semakin Dewasa Menuju Kepenuhan Kristus
Efesus 4:1-6
Dalam bagian ini Paulus menasehatkan anggota-anggota jemaat, supaya mereka memelihara kesatuan jemaat. Nasehat ini diberikan dan didasarkan secara prinsipal dan dihuhungkan dengan suatu pembicaraan yang prinsipal pula, yaitu tentang pembangunan jemaat oleh pelayanan anggota-anggotanya sebagai orang-orang yang mendapat karunia. Nasehat itu Paulus mulai seperti berikut: “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang hukuman karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (ay. 1).
Yang Paulus maksudkan dengan “kalian” di sini ialah anggota-anggota jemaat (di Efesus), yang pada permulaan surat ini ia sebut “orang-orang kudus dan orang-orang percaya” (Efesus 1:1), yang Tuhan Allah berkati dengan berkat rohani di dalam sorga (Efesus 1:3), yang dalam Kristus mereka dipilih menjadi anak-Nya (1:4-5), yang diterangkan mata hatinya (1:18), yang dibangkitkan bersarna-sama dengan Kristus dan tempatkan dengan Dia di dalam sorga, sekalipun mereka berada di bumi (2:6), yang oleh darah Kristus telah dipersatukan dengan orang-orang Kristen- Yahudi dengan jalan merobohkan tembok yang memisahkan mereka (2:13-14).
Dengan tegas Paulus katakan: bukan saja “aku” sebagai rasul yang ditugaskan Tuhan untuk memberitakan Injil Kristus kepada mereka, tetapi juga “aku” sebagai orang hukuman yang dipenjarakan karena Kristus. Nasehatnya yang pertama ialah, supaya hidup mereka berpadanan dengan panggilan mereka.
Ungkapan “hidup berpadanan dengan panggilan” ini dalam ayat 2 ia jelaskan sebagai berikut: yaitu dengan segala kerendahan dan hati yang lemah-lembut, dengan kesabaran, seorang sabar terhadap yang lain dafam kasih (atau sabar terhadap satu sama lain dalam kasih) :
Sikap yang pertama-tama ia minta ialah, supaya mereka rendah hati.
Rendah hati merupakan sikap yang sukar ditemukan di zaman kita. Sebaliknya, egoisme merajai sikap hidup manusia yang hidup diabad ini. Siapa lu siapa gua, seakan menjadi semboyan keegoisan manusia. Aku yang paling hebat, engkau tak ada apa-apanya semakin menyeruak dalam hidup setiap orang. Tersinggung sedikit, sudah ngamuk tidak kepalang. Harga dirinya tersentuh sedikit saja, sudah meminta aparat hukum untuk menegakkan keadilan. Singkatnya, sikap rendah hati semakin jauh dari potret kehidupan masyarakat kita. Namun, berbeda dengan kisah berikut ini.
Di suatu kantor, terdapat seorang direktur. Dalam kesan yang disampaikan oleh beberapa karyawannya pada waktu acara perpisahan pensiun. Seorang karyawan berkata,”Saya berterima kasih karena bapak selalu mengatakan minta tolong ketika meminta saya melakukan tanggung jawab saya. Saya bersyukur bapak selalu mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil yang saya lakukan. Saya pun bersyukur bapak tidak pernah merendahkan saya ketika tindakan bodoh saya lakukan. Bapak pimpinan tertinggi di kantor ini, namun saya merasa sangat dihargai”. Selain itu, setiap ada tamu yang datang direktur inilah yang membukakan pintu, dan selalu mengantar pulang tamu hingga di depan pintu keluar.
Firman Tuhan mengajarkan, agar kita tetap rendah hati (Flp. 2:1-11). Menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri salah satu sikap rendah hati. Namun, meninggikan diri dan mencari pujian manusia merupakan sikap sombong yang ditentang Allah. Rasul Paulus menasihati agar kita merendahkan hati seorang terhadap yang lain sebagaimana Kristus melakukannya. Walaupun dalam rupa Allah, namun Kristus tidak menganggap itu sebagai hak yang harus dipertahankan. Dia mengosongkan diri-Nya, bahkan sampai mati di kayu salib. Yesus adalah teladan kerendahan hati. Sebagai orang percaya, kita perlu belajar rendah hati.
Selain daripada kerendahan (rendah hati), Paulus juga menyebut sikap yang kedua, yaitu hati yang lemah-lembut. Itulah ciri kedua dari panggilan mereka.
Jika dikatakan bahwa Yesus itu lemah lembut, itu tidak berarti bahwa Dia berhati lemah. Lemah lembut sama sekali bukan kelemahan. Dalam kenyataan, orang yang lemah lembutlah sesungguhnya memiliki wibawa yang besar. Ia akan disegani baik oleh kawan maupun lawan.Kelemah-lembutan yang sejati selalu diikuti oleh kebajikan kesabaran dan penguasaan diri. Namun, di sisi lain, orang yang lemah lembut sekaligus akan memiliki pula kebajikan kekuatan dan keberanian yang tak tergoncangkan. Ia seperti aliran air yang tenang, tetapi dapat mengikis dan menghaluskan batu sekasar apa pun.
Orang yang lemah lembut juga seperti kota di atas bukit yang tampak dari jauh. Keutamaannya tidak akan dapat ditutup-tutupi. Hanya dengan kehadirannya saja ia dapat memberikan rasa sejuk, aman, dan tenang bagi orang-orang di sekitarnya. Pribadi Yesus yang lemah lembut dengan mudah membuat anak-anak tertarik kepada-Nya.
Kelemah-lembutan yang tampak jelas dari luar tidak mengatakan bahwa ia hanya soal lahiriah semata. Sebenarnya, ia adalah kualitas seseorang yang terpancar dari dalam. Yang pokok ada di dalam. Orang dapat saja tampak lemah-lembut, membuat dirinya kelihatan lemah-lembut. Namun, itu bukan jaminan bahwa ia memiliki kebajikan kelemah-lembutan. Mungkin, ia dapat menipu orang-orang untuk sementara waktu. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan bertahan lama.
“Rendah hati dan hati yang lemah-lembut erat bersatu. Keduanya mengungkapkan sikap manusia batiniah terhadap Tuhannya menurut isi dan bentuk. Disamping rendah hati dan hati yang lemah-lembut itu Paulus juga menyebut kesabaran Kesabaran adalah memelihara temperamen yang tenang ketika menghadapi permusuhan, perlawanan atau penderitaan. Itulah ciri ketiga dari panggilan mereka. “Kesabaran lain daripada tawakal. Kesabaran itu berakar dalam iman dan tumbuh menuju kepada masa depan Allah. Kesabaran itu hidup dari doa, seperti yang Paulus persembahkan untuk jemaat”. Selain dari ketiga “sifat” ini, Paulus sebut juga “kesabaran seorang terhadap yang lain dalarn kasih” (kesabaran terhadap satu sama lain dalam kasih). Memang tidak mudah menjadi orang sabar, biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, “Yah.. Sabar kan ada batasnya.” Atau lidah kita berseru, “Sabar sih sabar.. tapi kalau sudah keterlaluan?” Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.
Itulah tugas mereka sebagai anggota-anggota jemaat. Mereka bukan dipanggil sebagai orang-seorang, tetapi sebagai anggota persekutuan, anggota tubuh Kristus. Dan sebagai anggota tubuh Kristus, mereka harus memperlakukan satu sama lain “dalam kasih”. Hanya dengan jalan itu saja mereka dapat memenuhi panggilan mereka sebagai anggota-anggota tubuh Kristus dan menuju kepenuhan Kristus. Amin.

