Posted on January 26th, 2012 in
Renungan
Kisah 5:26-42
Apakah Anda hari-hari ini merasakan ketakutan?? Ketakutan terhadap bisnis, keluarga, masa depan, kejahatan lalu lintas, atau banyak hal yang lainnya. Ketakutan adalah suatu kondisi yang tidak mengenakkan bagi seseorang karena ia tidak bisa merasakan ketenangan apalagi kedamaian. Inilah dunia dimana Anda dan saya hidup saat ini.
Apakah Para rasul juga mengalami hal semacam itu? Saat kembali ditangkap, sebagai manusia, Petrus pasti juga mengalami ketakutan, tetapi ia tetap memiliki keberanian untuk memberitakan Yesus: “yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh” (ay. 27-32). Setelah melalui perdebatan yang sengit, para rasul “hanya” disesah dan kemudian dilepaskan disertai perintah untuk tidak memberitakan tentang Yesus lagi (33-40). Namun keadaan ini tidak membuat para rasul “jera” bahkan mereka bergembira karena telah dianggap layak untuk menderita bagi nama Yesus (41-42).
Semakin ditekan semakin hebat. Pertumbuhan gereja mula-mula disertai dengan tekanan yang dialaminya dalam dua gelombang. Gelombang pertama, mereka dilarang untuk memberitakan Injil dan diberi peringatan, respons para rasul seperti yang sudah pernah kita lihat (4:23-31). Gelombang kedua, mereka menerima larangan dan menerima siksaan. Hasilnya mereka bersukacita dan berani menentang kekuasaan Sanhedrin demi ketaatannya kepada Allah. Tekanan, penganiayaan bahkan pembunuhan sekalipun terhadap Kristen tidak akan menghancurkan Gereja Tuhan. Sebaliknya hal-hal demikian akan makin menyucikan dan menumbuhkan Gereja Tuhan.
Ada banyak cara yang Tuhan gunakan untuk menolong anak-anak-Nya, salah satunya adalah dengan menempatkan orang yang tepat, pada waktu yang tepat (Yusuf di Mesir, Nehemia di istana Raja Artahsasta, Ester di istana Raja Ahasyweros). Cara inilah yang Tuhan lakukan. Tuhan memakai Gamaliel, seorang Farisi, untuk melindungi para rasul dari rencana jahat para imam.
Pada masa itu Gamaliel adalah seorang guru agama Yahudi yang berpengaruh dan salah satu anak didiknya yang kita kenal ialah Paulus. Tuhan menggunakan Gamaliel—-seseorang yang tidak percaya kepada Kristus—-untuk melindungi pengikut Kristus. Mungkin para rasul tidak pernah membayangkan bahwa jiwa mereka terselamatkan oleh seorang rabi Farisi, namun begitulah cara Tuhan bekerja!
Dalam perjalanan mengikut Tuhan, ada dua hal yang perlu kita ingat dan bedakan dengan jelas: Apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui. Yang kita ketahui adalah, Tuhan itu baik dan kasih setia-Nya untuk selamanya (Mzm. 100:5). Jadi, apa pun yang kita alami, tetaplah berpegang pada kebenaran firman ini. Yang tidak kita ketahui adalah cara Tuhan bekerja yakni bagaimanakah Ia mewujudkan kebaikan-Nya.
Penting bagi kita untuk tidak mencampuradukkan keduanya. Jangan membuat yang pasti menjadi tidak pasti, yakni meragukan kebaikan Tuhan. Jangan membuat yang tidak pasti menjadi pasti yaitu dengan mematokkan cara kerja Tuhan. Tuhan menyatakan kebaikan- Nya kepada kita melalui pelbagai cara, dan kalaupun Ia tidak memakai cara yang sama, itu tidak berarti Ia telah meninggalkan kita atau Ia tidak berdaya menolong. Ingatlah bahwa Tuhan bekerja dengan cara-cara yang tak terbayangkan. Pengkhotbah 3: 11, mengatakan,”Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”. Ia mencoba untuk mengetahui bagaimana janji Allah tentang anaknya dapat terpenuhi. Ketika ia berpikir cukup jauh, Sara juga terjangkit oleh ketidakpercayaannya. Ia lelah karena suaminya terus membicarakan hal itu dan menawarkan budak perempuannya, Hagar. Dalam Kejadian 16, Abraham memutuskan bahwa ini adalah sebuah cara yang baik untuk “menolong” Allah memenuhi janji-Nya. Bantuan Abraham terhadap Allah menghasilkan Ismael.
Pemikiran jasmani Abraham membawa akibat yang luar biasa. Hal yang sama dapat terjadi pada kita jika kita tidak berjalan dalam iman mengenai janji Allah. Ketika Allah menjanjikan sesuatu, Ia memiliki sebuah rencana tentang bagaimana hal ini bisa dinyatakan, dan hal itu mungkin sangat berbeda dengan apa yang telah kita bayangkan. Sedihnya, banyak orang tidak ingin menanti Allah, tetapi mengambil jalan keluar yang paling mudah diraih. Mereka terburu-buru dengan Ismaelnya sementara Allah memiliki IshakNya.
Salah seorang penulis Kristiani asal Amerika Serikat Byron Bohnert pernah menulis sebuah kalimat yang indah mengenai ketidakpastian. Kira-kira bila diterjemahkan berbunyi seperti ini “Seringkali mengikuti Allah bukan berarti membuat hidup Anda enak karena segala sesuatunya menjadi serba pasti. Justru sebaliknya, ketidakpastian akan kerap Anda temui. Namun, jika Anda tetap mengikuti-Nya maka perjalanan Anda akan menjadi sangat bernilai.” Ketidakpastian inilah yang saya sebut zona asing. Walaupun kita adalah orang-orang beriman, Tuhan Yesus tetap akan membiarkan kita berada dalam zona asing/ketidakpstian/ketakutan. Ini bukanlah karena Dia tidak mengasihi kita, tetapi karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita maka Dia mengizinkan kita mengalami ketidakpastian. Dia tahu ketika kita berada dalam zona yang aman maka kita akan melepaskan-Nya. Kita tidak lagi bergantung kepada-Nya, tetapi menggunakan kekuatan diri sendiri.
Bila hari-hari ini Anda merasa seperti berada dalam zona asing dan karenanya Anda takut menjalani hidup, ingatlah perkataan Allah melalui perantaraan Nabi Yesaya kepada bangsa Israel, “Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan.”
Orang yang bergantung kepada Allah tidak akan pernah dikecewakan-Nya.